Fenomena Blue Moon yang terjadi pada 31 Mei sering membuat banyak orang mengira bahwa Bulan akan tampak berwarna biru di langit malam. Padahal, istilah tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan warna alami satelit Bumi tersebut.
Secara astronomi, Blue Moon adalah sebutan untuk Bulan Purnama tambahan yang muncul dalam periode tertentu. Fenomena ini tergolong langka, sehingga muncul ungkapan bahasa Inggris “once in a blue moon” yang berarti sesuatu yang jarang terjadi.
Ada dua definisi Blue Moon yang umum digunakan:
- Blue Moon Musiman
Terjadi ketika dalam satu musim terdapat empat kali Bulan Purnama. Purnama ketiga disebut sebagai Blue Moon. - Blue Moon Bulanan
Terjadi ketika dalam satu bulan kalender terdapat dua kali Bulan Purnama. Purnama kedua disebut Blue Moon. Definisi ini yang paling populer di masyarakat.
Pada 31 Mei, fenomena yang dimaksud bukanlah Bulan berubah warna menjadi biru, melainkan penamaan astronomi untuk fase Bulan Purnama tertentu.
Kenapa Bulan Bisa Tampak Biru?
Meski jarang, Bulan memang pernah terlihat kebiruan. Namun hal itu disebabkan oleh kondisi atmosfer Bumi, bukan karena fenomena Blue Moon itu sendiri.
Warna biru dapat muncul ketika ada partikel asap, debu vulkanik, atau polusi tertentu di atmosfer yang menyaring cahaya merah sehingga cahaya biru lebih dominan terlihat. Contohnya pernah terjadi setelah letusan gunung berapi besar atau kebakaran hutan masif.
Namun dalam kondisi normal, Bulan saat Blue Moon tetap tampak putih, kekuningan, atau jingga seperti Bulan Purnama biasa.
Fenomena Astronomi yang Menarik
Walaupun tidak benar-benar berwarna biru, Blue Moon tetap menjadi fenomena langit yang menarik untuk diamati. Banyak penggemar astronomi memanfaatkan momen ini untuk fotografi malam maupun pengamatan langit.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa istilah dalam astronomi sering kali memiliki makna historis dan budaya, bukan selalu menggambarkan kondisi visual objek langit secara langsung.
















