Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati Tahun Baru Islam yang jatuh pada tanggal 1 Muharram. Berbeda dengan kalender Masehi yang digunakan secara internasional, kalender Islam atau kalender Hijriah memiliki sistem perhitungan tersendiri yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.
Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa kalender Islam disebut kalender Hijriah? Mengapa perhitungannya dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan dari kelahiran atau wafat beliau? Untuk memahami hal tersebut, kita perlu menelusuri sejarah panjang lahirnya sistem penanggalan Islam.
Sebelum Kalender Hijriah: Bangsa Arab Sudah Mengenal Nama Bulan
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab sebenarnya telah mengenal sistem penanggalan berbasis Bulan atau kalender qamariyah.
Mereka sudah menggunakan nama-nama bulan yang hingga kini masih dipakai dalam kalender Islam, yaitu:
- Muharram
- Safar
- Rabiul Awal
- Rabiul Akhir
- Jumadil Awal
- Jumadil Akhir
- Rajab
- Syaban
- Ramadan
- Syawal
- Dzulqaidah
- Dzulhijjah
Meski demikian, masyarakat Arab saat itu belum memiliki sistem penomoran tahun yang baku. Mereka biasanya menandai suatu peristiwa berdasarkan kejadian besar yang terjadi pada masa tersebut.
Sebagai contoh, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai “Tahun Gajah” karena pada tahun itu terjadi peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah.
Cara ini memang cukup efektif pada masa itu, tetapi menjadi masalah ketika wilayah Islam semakin luas dan administrasi pemerintahan semakin kompleks.
Munculnya Kebutuhan Akan Sistem Penanggalan Resmi
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, wilayah kekuasaan Islam berkembang sangat pesat. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Islam telah meluas hingga wilayah Persia, Syam, Mesir, dan berbagai kawasan lainnya.
Banyak surat resmi, keputusan pemerintahan, dan dokumen administrasi dikirim ke berbagai daerah.
Suatu ketika, Gubernur Basrah, Abu Musa al-Asy’ari, mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Dalam surat tersebut ia mengeluhkan banyaknya dokumen yang hanya mencantumkan bulan tanpa menyebutkan tahun.
Akibatnya sering terjadi kebingungan dalam menentukan kapan sebuah keputusan dibuat atau kapan suatu perintah harus dilaksanakan.
Masalah administrasi inilah yang kemudian mendorong Umar bin Khattab untuk membentuk sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.
Musyawarah Para Sahabat Menentukan Awal Kalender Islam
Sekitar tahun 17 Hijriah atau 638 Masehi, Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat Nabi untuk bermusyawarah menentukan titik awal kalender Islam.
Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan penting.
1. Tahun Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Sebagian sahabat mengusulkan agar perhitungan tahun dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW karena beliau merupakan tokoh sentral dalam agama Islam.
Namun usulan ini tidak dipilih karena tanggal pasti kelahiran Nabi masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat.
2. Tahun Diangkat Menjadi Nabi
Ada pula yang mengusulkan agar kalender Islam dimulai sejak Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira.
Peristiwa ini memang sangat penting karena menjadi awal turunnya risalah Islam kepada umat manusia.
3. Tahun Wafat Nabi Muhammad SAW
Usulan lainnya adalah menjadikan tahun wafat Nabi sebagai awal kalender Islam.
Namun banyak sahabat merasa peristiwa tersebut terlalu menyedihkan untuk dijadikan penanda awal perhitungan waktu umat Islam.
4. Tahun Hijrah Nabi ke Madinah
Akhirnya para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.
Keputusan ini dianggap paling tepat karena hijrah menjadi titik balik yang mengubah perjalanan sejarah Islam.
Mengapa Peristiwa Hijrah Dipilih?
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya.
Hijrah merupakan momen penting yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri.
Di Madinah, umat Islam mulai memiliki:
- Pemerintahan sendiri
- Sistem hukum sendiri
- Kekuatan sosial dan politik
- Kebebasan menjalankan ajaran agama
Peristiwa hijrah juga menjadi awal berdirinya negara Islam pertama dalam sejarah.
Karena alasan itulah para sahabat memandang hijrah sebagai tonggak paling penting dalam perkembangan Islam.
Dari sinilah istilah “Hijriah” berasal, yaitu dari kata “Hijrah”.
Mengapa Tahun Hijriah Dimulai pada Bulan Muharram?
Banyak orang mengira hijrah Nabi terjadi pada bulan Muharram.
Faktanya, Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal tahun 622 Masehi.
Lalu mengapa kalender Islam justru dimulai dari bulan Muharram?
Ada beberapa alasan:
Muharram Sudah Dianggap Bulan Pertama
Sejak zaman Arab kuno, Muharram telah dianggap sebagai bulan pertama dalam siklus tahunan.
Setelah Musim Haji
Muharram datang setelah bulan Dzulhijjah, yaitu bulan pelaksanaan ibadah haji.
Masyarakat Arab menganggap setelah musim haji berakhir, dimulailah tahun yang baru.
Awal Niat Hijrah
Para ulama menjelaskan bahwa persiapan hijrah Nabi dimulai setelah Baiat Aqabah yang terjadi menjelang Muharram.
Karena itu Muharram dianggap sebagai awal fase hijrah meskipun perpindahan fisiknya terjadi beberapa bulan kemudian.
Bagaimana Sistem Perhitungan Kalender Hijriah?
Kalender Hijriah menggunakan sistem qamariyah atau peredaran Bulan.
Satu bulan dimulai ketika hilal atau bulan sabit pertama terlihat setelah fase bulan baru.
Karakteristik kalender Hijriah:
- Satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.
- Satu tahun terdiri dari 12 bulan.
- Total satu tahun sekitar 354 atau 355 hari.
Sebagai perbandingan, kalender Masehi menggunakan sistem syamsiyah atau peredaran Bumi mengelilingi Matahari dengan jumlah sekitar 365,25 hari per tahun.
Akibatnya kalender Hijriah lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari dibanding kalender Masehi.
Mengapa Ramadan Selalu Bergeser?
Karena perbedaan panjang tahun tersebut, bulan-bulan Hijriah terus bergeser setiap tahunnya dalam kalender Masehi.
Misalnya:
- Tahun ini Ramadan mungkin jatuh pada bulan Februari.
- Beberapa tahun kemudian bisa jatuh pada bulan Januari.
- Belasan tahun berikutnya dapat jatuh pada bulan Desember.
Dalam siklus sekitar 33 tahun, bulan-bulan Hijriah akan kembali ke musim yang sama.
Inilah sebabnya umat Islam di berbagai belahan dunia merasakan Ramadan pada musim yang berbeda-beda sepanjang hidup mereka.
Perbedaan Kalender Hijriah dan Kalender Masehi
| Kalender Hijriah | Kalender Masehi |
|---|---|
| Berdasarkan Bulan | Berdasarkan Matahari |
| 354–355 hari per tahun | 365–366 hari per tahun |
| Awal tahun: 1 Muharram | Awal tahun: 1 Januari |
| Dimulai dari Hijrah Nabi | Dimulai dari perhitungan kelahiran Yesus Kristus |
| Digunakan untuk ibadah Islam | Digunakan secara internasional |
Makna Tahun Baru Hijriah Bagi Umat Islam
Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender.
Momentum 1 Muharram mengingatkan umat Islam pada semangat hijrah, yaitu meninggalkan keburukan menuju kebaikan.
Hijrah mengajarkan keberanian menghadapi perubahan, pengorbanan demi mempertahankan keyakinan, serta tekad membangun kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, setiap datangnya 1 Muharram, umat Islam dianjurkan melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia, serta menyusun langkah yang lebih baik untuk tahun yang akan datang.
Penutup
Kalender Hijriah lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab sebagai solusi atas kebutuhan administrasi pemerintahan Islam yang semakin berkembang. Setelah melalui musyawarah para sahabat, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dipilih sebagai titik awal penanggalan Islam karena dianggap sebagai tonggak berdirinya peradaban Islam.
Hingga saat ini, kalender Hijriah tetap menjadi pedoman utama umat Islam dalam menentukan berbagai ibadah penting seperti puasa Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan pelaksanaan ibadah haji. Lebih dari sekadar sistem penanggalan, kalender Hijriah merupakan pengingat akan perjuangan, pengorbanan, dan semangat perubahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.
Judul SEO: Awal Mula Sejarah Perhitungan Tahun Hijriah, Mengapa Kalender Islam Dimulai dari Hijrah Nabi?
Meta Description: Mengenal sejarah kalender Hijriah dari masa Khalifah Umar bin Khattab, alasan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dijadikan awal penanggalan Islam, hingga sistem perhitungannya yang berbasis peredaran bulan.
















