Gunung Batu di Sesar Lembang: Naik Ratusan Meter Akibat Dorongan Tektonik

- Jurnalis

Senin, 25 Agustus 2025 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

inikanaku.my.id – Gunung Batu yang berada di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bukan sekadar destinasi wisata dengan panorama indah. Gunung yang menjulang di jalur Sesar Lembang ini menyimpan cerita geologi panjang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Gunung Batu sebenarnya terangkat akibat aktivitas sesar aktif, dan kini telah naik ratusan meter dari posisi asalnya.

Dari Dataran Menjadi Gunung

Menurut peneliti BRIN, Mudrik Rahmawan Daryono, Gunung Batu dulunya berada di level yang sama dengan sekitarnya. Namun, pergerakan Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer telah mengangkatnya sedikit demi sedikit dalam rentang waktu ribuan tahun.

“Gunung Batu ini bagian dari Sesar Lembang, jadi naik. Dulu ini satu level yang sama kemudian dia terangkat secara tektonik,” kata Rahmawan, Minggu (24/8/2025).

Studi geologi mencatat adanya kenaikan vertikal antara 120 hingga 450 meter. Bagian yang paling muda, atau yang paling jelas terlihat sekarang, naik sekitar 120 meter. Proses ini terjadi secara bertahap, bukan seketika, seiring pergeseran tektonik di jalur Sesar Lembang.

Bukti-Bukti Lapangan

Temuan lapangan menguatkan teori ini. Rahmawan menjelaskan bahwa berdasarkan kajian deformasi batuan, ada indikasi pergeseran vertikal sekitar 40 sentimeter akibat gempa dengan magnitudo antara 6,5–7,0 skala Richter. Artinya, setiap kali sesar bergerak, terjadi tambahan pengangkatan yang memperbesar ketinggian Gunung Batu.

Baca Juga :  Apa Itu Gas Air Mata dan Cara Mengatasinya Jika Terpapar

Hal ini sejalan dengan temuan  dalam laporan tentang Sesar Lembang yang dikutip dari kompas.com. Peneliti LIPI, Mudrik, menemukan pergeseran sungai terbesar mencapai 640 meter, medium 120 meter, dan terkecil 7 meter. Dari data itu, laju geser (slip rate) Sesar Lembang diperkirakan sekitar 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun.

“Mudrik menemukan pergeseran sungai terbesar 640 meter, medium 120 meter, dan yang terkecilnya 7 meter. Dari statistik tersebut, tim bisa mengetahui ukuran batuan yang bergeser,” tulis Kompas.com.

Dengan laju ini, perubahan lanskap tidak terlihat dalam hitungan hari atau tahun, tetapi akumulasi dalam skala ribuan tahun membuat perbedaan nyata, termasuk terbentuknya Gunung Batu sebagai tonjolan tektonik.

Gunung Batu: Penanda Bahaya Sesar Lembang

Gunung Batu berada di kilometer 16 jalur Sesar Lembang. Posisi ini menjadikannya bukti nyata bagaimana sesar tersebut terus bergerak dan mengubah permukaan bumi.

Detik.com melaporkan bahwa pergeseran vertikal 40 cm yang terjadi di kawasan Gunung Batu menjadi indikator adanya gempa besar di masa lalu. Hal ini menegaskan bahwa Sesar Lembang adalah sesar aktif yang sewaktu-waktu bisa memicu gempa dengan kekuatan signifikan.

Baca Juga :  Tidak Bermazhab, Muhammadiyah Membolehkan Talfiq

Para peneliti menilai bahwa jika Sesar Lembang kembali bergerak besar, dampaknya akan langsung terasa di kawasan Bandung Raya yang padat penduduk.

Wisata Sekaligus Laboratorium Alam

Kini, Gunung Batu sering dijadikan lokasi wisata alam dan susur geologi. Para peneliti, mahasiswa, hingga wisatawan umum bisa melihat secara langsung lapisan batuan yang miring dan retakan geologis, bukti dari pergerakan bumi di masa lalu.

Selain menjadi destinasi wisata populer, Gunung Batu juga bisa dipandang sebagai laboratorium alam untuk mempelajari bagaimana sesar aktif bekerja. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan potensi bahaya gempa dan pentingnya mitigasi.

Penutup

Gunung Batu di Lembang bukan hanya sekadar pemandangan ikonik, melainkan saksi bisu pergerakan Sesar Lembang. Dari yang semula setara dengan daratan sekitarnya, kini ia terangkat hingga ratusan meter, bukti nyata bahwa bumi terus bergerak.

Dengan penelitian yang terus dilakukan, Gunung Batu diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga peringatan penting tentang ancaman gempa di masa depan.

 

Follow WhatsApp Channel inikanaku.my.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fenomena Langit Pekan Terakhir Mei 2026, Blue Moon Jadi Sorotan
Supermoon Beaver Moon 5 November 2025, Bulan Purnama Terbesar Tahun Ini
Fenomena Langit Selama November 2025, Supermoon hingga Hujan Meteor Hiasi Malam di Indonesia
Fenomena Alam Spektakuler Bakal Hiasi Langit September 2025
Fenomena Kulminasi Matahari Mulai 7 September, Bayangan Tubuh Bisa Hilang!
Fenomena Hujan Meteor Aurigids 1 September 2025, Bisa Diamati dari Indonesia
Apa Itu Gas Air Mata dan Cara Mengatasinya Jika Terpapar
Gas Air Mata: Bahaya, dan Cara Penanganannya
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:07 WIB

Fenomena Langit Pekan Terakhir Mei 2026, Blue Moon Jadi Sorotan

Rabu, 5 November 2025 - 18:47 WIB

Supermoon Beaver Moon 5 November 2025, Bulan Purnama Terbesar Tahun Ini

Jumat, 5 September 2025 - 14:24 WIB

Fenomena Alam Spektakuler Bakal Hiasi Langit September 2025

Jumat, 5 September 2025 - 13:56 WIB

Fenomena Kulminasi Matahari Mulai 7 September, Bayangan Tubuh Bisa Hilang!

Senin, 1 September 2025 - 07:33 WIB

Fenomena Hujan Meteor Aurigids 1 September 2025, Bisa Diamati dari Indonesia

Info Terbaru

Healthy Lifestyle

Ikan Teri, Sumber Kalsium dan Protein Alami dari Laut Indonesia

Jumat, 7 Nov 2025 - 20:23 WIB